Sebuah hal yang tidak dapat kita tolak saat ini adalah, cepatnya laju dunia. Kita berada dalam era teknologi informasi tanpa batas. Satu sisi, kita mudah mengakses berita terkini, namun sisi lainnya, menghambat proses interaksi dalam keluarga maupun lingkungan sekitar. Ini berdasarkan informasi dari para wali peserta didik yang mengeluhkan perilaku putra-putrinya yang larut dalam facebook, instagram, whatshap atau bahkan kecanduan game online, tanpa mengindahkan belajar dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga. Saat diingatkan, mereka agresif dan temperamental serta bersikap acuh terhadap orang tua.
Lalu bagaimana dengan perkembangan peserta didik, yang kurang perhatian orang tua ? Mereka ditinggalkan ibu, ayah, bahkan keduanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan hanya ditemani gawai. Ini adalah kondisi yang sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, mereka memegang alat komunikasi canggih sebagai trend kekinian, ciri anak zaman now, tanpa pengawasan. Mereka bermain game, chatting, browssing atau selancar di youtube sesuka hati. Membaca berita-berita kekerasan, hoax, tontonan yang tidak senonoh (amoral) tanpa filter diri. Anak-anak menjadi terlalu bersemangat dalam bergadged tanpa menyadarinya, sehingga mengarah pada suasana hati yang lebih buruk, lebih banyak kecemasan, tingkat iritabilitas yang lebih tinggi dan perilaku yang kurang terpuji. Tentu hal ini akan berdampak negatif pada tumbuh kembang mereka. Padahal menurut Jean Piaget, anak-anak belajar dari lingkungan mereka dalam berbagai tahap. Tahap psikologi anak adalah, untuk menentukan arah dan tujuan ketika dewasa nanti. Pada tahap ini, yang paling utama, mengembangkan regulasi emosional. Apabila keliru dalam melakukan metode pengembangannya maka dimungkinkan akan ada banyak kerugian dan dampak negatif yang dapat ditimbulkan. (http:bloganakindonesiablogspot.com). Keluarga sebagai basis pendidikan utama, diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dan sesuai guna menyikapi hal tersebut. Lalu bagaimana dengan madrasah kami? apa upaya madrasah dalam menangkal dampak negatif yang ditimbulkan oleh pesatnya teknologi informasi zaman now, sekaliagus membentuk peserta didik yang berakhlakul karimah ?
Madrasah kami mengupayakan pendidikan karakter, baik yang terintegrasi dengan mata pelajaran, maupun yang berada di luar itu. Pembiasaan pada setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, adalah hal yang teramat mutlak kami lakukan, bahkan telah menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Seperti hafalan Al-Quran juz 30, Asmaul Husna, shalat duha bersama dilanjutkan doa dan sholawat. Pada siang haripun melakukan shalat duhur berjamaah di masjid terdekat, bersama warga sekitar. Bahkan setiap hari Jumat ada program tahlil. Pembiasaan tersebut dilakukan setiap hari secara terus menerus, selama mereka tercatat sebagai peserta didik MI Ma’arif NU 02 Babakan. Kegiatan ini selaras dengan Teori Pembiasaan Klasik oleh Pavlov, yang penulis kutip dari buku Strategi Pembelajaran, Teori dan Aplikasi karya Jamil Suprihatiningrum, bahwa stimulus bersyarat secara berulang-ulang memunculkan reaksi yang diinginkan. Lebih lanjut Pavlov menyatakan individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Upaya ini kami lakukan, bukan hanya dalam rangka mengimplementasikan pendidikan karakter diluar pembelajaran, akan tetapi, sebagai upaya dan wujud pengakuan diri serta kepasrahan kami pada Allah. Sebuah pengakuan bahwa kami adalah manusia terbatas dalam mendidik, mengarahkan, membimbing dan mengevaluasi peserta didik sebagai amanah. Ditambah dengan dampak perubahan tingkah laku yang terjadi secara menyeluruh di semua lapisan masyarakat tak terkecuali anak-anak, pastinya membutuhkan kekuatan yang lebih besar, untuk mengendalikannya. Sebuah wujud kepasrahan total dari kami, supaya peserta didik mendapat energi Ilahi sebelum beraktifitas, mengadirkan petunjuk dan pertolongan Allah pada setiap detak nafas kami disepanjang harinya. Bukankah salah satu perkara yang sangat penting dalam Islam adalah dzikrullah (mengingat Allah) dalam jumlah banyak dan terus menerus? Seperti tercantum dalam ayat berikut,
يَا Ø£ÙŽÙŠÙّهَا الَّذÙينَ آمَنÙوا Ø§Ø°Ù’ÙƒÙØ±Ùوا اللَّهَ ذÙكْرًا ÙƒÙŽØ«Ùيرًا
yang artinya:”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya”. ( QS.Al-Ahzab :41 ). Maka dzikrullah dapat menjadi solusi mengatasi segala kegelisahan tersebut. Sebagaimana janji Allah subhanahu wa ta’ala,
الَّذÙينَ آمَنÙوا وَتَطْمَئÙÙ†ÙÙ‘ Ù‚ÙÙ„ÙوبÙÙ‡Ùمْ Ø¨ÙØ°Ùكْر٠اللَّه٠أَلا Ø¨ÙØ°Ùكْر٠اللَّه٠تَطْمَئÙÙ†ÙÙ‘ الْقÙÙ„ÙوبÙ
“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” ( QS Ar-Ra’du : 28 ). Oleh karena itu, hubungan yang diharapkan terjadi, ketika peserta didik istiqomah membaca ayat-ayat Allah, menghafal Asma-Asma Allah, sholat duha, doa, lantunan sholawat, kalimat-kalimat thoyyibah, sholat duhur berjamaah selama 6 tahun adalah, pendidikan karakter yang terbentuk oleh sibghoh (celupan) dari Allah subhanahu wa ta’ala.
ØµÙØ¨Ù’غَةَ اللَّه٠ۖ وَمَنْ Ø£ÙŽØÙ’سَن٠مÙÙ†ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ØµÙØ¨Ù’غَةً Û– ÙˆÙŽÙ†ÙŽØÙ’Ù†Ù Ù„ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙŽØ§Ø¨ÙØ¯Ùونَ
artinya : “ Shibghoh Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghohnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah”. Peserta didik yang tershibgoh oleh shibgohnya Allah akan dibimbing dan diberi petunjuk serta pertolongan oleh Allah untuk memiliki karakter fithrah yaitu menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, menjadi pribadi yang berakhlakul karimah sebagai upaya membumikan rahmat Allah. Sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 yang berbunyi :”Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”.
Sikap iman dan taqwa, akan mampu membuat mereka selalu memasang telinga dan membuka mata terhadap kesusahan serta penderitaan orang lain, sehingga mudah untuk mengulurkan pertolongan. Kelak, itulah manusia-manusia yang memiliki kebaikan dan manfaat serta rahmatan lil’aalamiin, bukan mengumbar nafsu serta keburukan yang akan selalu merugikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa bahkan negara. Bukankah kita membutuhkan generasi emas yang akan membawa bangsa ini menjadi negeri impian? Sebuah negeri dengan kedamaian menjadi oksigen untuk dapat kita hirup setiap hari dan kesejahteraan yang begitu mudah ditemui. Negeri baldatun, toyyibatun wa robbun ghofur. Senada dengan semua hal di atas, penulis senantiasa berharap pada Allah bahwa, atsar dari pembiasaan madrasah yang menjadi bagian pendidikan karakter, sebagai upaya mengelokkan akhlak peserta didik MI Ma’arif NU 02 Babakan, tidak hanya menjadi benteng dalam rangka menangkal dampak negatif pesatnya teknologi dan informasi saat ini, akan tetapi, merupakan sarana membumikan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, supaya selamat dunia akhirat. Nah, kondisi akhir inilah yang selalu diidamkan oleh setiap orang, bukan?



